Rabu, 02 April 2014

BEST FRIEND FOREVER






BEST FRIEND FOREVER


IniMentari pagi belum juga muncul. Maklum jam masih menunjukkan pukul 05.00 WIT. Jam alarmku berbunyi makin kuat, sepertinya ia tak sabar membangunkanku. Segera aku bangun dari tempat tidur lalu membereskannya. Kemudian, aku menuju kamar mandi. “Eh Dian, udah bangun, ya. Cepat cuci muka lalu wudhu dan shalat udah adzan tuh. Ummi sama Dek Liza aja udah shalat.” Kata Ummiku. “Iya, Ummi” kataku. Aku pun masuk ke kamar mandi, cuci muka lalu wudhu lalu menuju kamar dan menunaikan Shalat Shubuh. Seusai shalat aku membantu ummiku di dapur menyiapkan sarapan.

Sekitar jam 06.00, sesudah sarapan pagi aku pun pamit pada Abi dan Ummiku untuk berangkat ke sekolah. Saat di perjalanan aku bertemu Razil, teman sekolahku sekaligus sahabatku. “Hai, Dian.” Sapanya. “Hai juga, Zil.” “Eh, Dian kamu udah buat tugas Bahasa Inggris?”. Katanya. “Hmm… bahasa Inggris udah. Kamu sudah?”. Tanyaku. “Sudah tentu, donk.” Karena keasyikan ngobrol sampai di sekolah kami pun dihukum gara-gara telat. Kami disuruh membersihkan green house dan menyiram tanaman di dalamnya.

Setelah beres kami pun bergegas menuju kelas. Untunglah guru kami belum masuk. Aku dan Razil pun menuju kursi kami masing-masing. Karena tidak ada guru di kelas kami, dari pada bengong sendiri akhirnya aku pun mengambil buku novel yang kubawa dari rumah dan membacanya. Karena memang kegemaranku adalah membaca.

Tak berapa lama kemudian bel istirahat berbunyi. Tiba-tiba Razil menghampiriku. “Dian, kita ke kantin bareng, yuk.” Katanya. “Hmm… iya.” Kataku. Aku dan Razil pun segera ke kantin. Sesampainya disana kami segera memesan makanan dan minuman. Kami makan dan minum hingga bel masuk berbunyi. “Zil, udah bel masuk tuh. Kita ke kelas yuk. Nanti keburu Pak guru Karjo masuk, gimana? Kita pasti dihukum.” Kataku kepada Razil. “Iya.” Kata Razil. Aku dan Razil pun menuju kelas sambil berlari. Seketika ku lihat Pak guru Karjo keluar dari kantor dan menuju kelas kami. “Zil, pak guru udah mau masuk tuh.” Kataku ketika hampir sampai di pintu kelas. Aku pun menarik tangan Razil dan segera masuk di kelas. Untunglah. Akhirnya kami pun selamat dari hukuman Pak guru Karjo.

Tepat jam 12.30 bel pulang berbunyi. Aku dan Razil pun pulang bersama-sama. Selama di perjalanan aku dan Razil ngobrol berbagai hal hingga tak terasa kami sudah sampai di depan rumahku. “Aku duluan, ya Zil. Sampai ketemu besok. Assalamualaikum.” Kataku pada Razil. “Iya, Dian. Waalaikumsalam.” katanya.

Keesokan harinya aku ke sekolah dengan bersemangat. Karena hari ini Razil ulang tahun. Semalam aku telah buat kado yang spedial banget buat sahabatku terbaik. Sesampainya di sekolah aku segera mencari-cari Razil. Ternyata dia tengah dudukdudukmenyendiri di bangku belakang. Aku segera menghampirinya. “Hai, Zil.” Sapaku. “Hai…!”. Kulihatnya wajahnya, sepertinya dia lagi sedih. “kamu lagi sedih ya?” tanyaku. Dia tak menjawab pertanyaanku. Malah dia pergi menghindar dariku. “Azil, tolong jawab pertanyaanku, dong! Kamu marah ya sama aku?”. Dia tak jawab. Aku pun makin penasaran. Kenapa sih tiba-tiba Razil menghindar dariku? Bukannya kita sahabat?. Aku pun mnghampirinya lagi. “Zil, tolong jawab, donk. Kamu marah, ya sama aku?” dia pun menggeleng lemah. “Jadi, kenapa kamu merung kayak gitu? Bukannya hari ini Ulang Tahunmu?” tanyaku lagi. Dia hanya menunduk. “Zil, jawab donk, kamu///” Belum sempat aku melanjutkan perkataanku Ibu Lila, guru ekonomi kami masuk kelas. Aku pun segera menuju bangku ku.

Jam menunjukkan pukul 12.30 bel pulang tanda pun berbunyi. Aku segera mencari-cari Razil, agar kita pulang bersama-sama. Tiba-tiba kulihat mobil Razil telah keluar dari pagar sekolah. Ternyata Razil telah pulang bersama orangtuanya. Aku pun pulang sendirian.

Sesampainya di rumah aku segera menelpon Razil. Berkali-kali aku telpon hpnya tidak aktif. Aku sms dia tak pernah balas. Aku pun menjadi kesal. Kenapa Razil jadi sedih kayak gitu?. Sebagai sahabat aku ingin menghiburnya. Membuat dia tak sedih lagi dan tetap tersenyum.

Esok harinya, aku ke sekolah. Kulangkahkan kakiku dengan tidak bersemangat. Sebenarnya aku ingin memberi Razil kado Ulang Tahun. Tapi kemarin aku tak sempat. Aku harus memberinya kado hari ini juga. Sampai di sekolah aku tak melihat Razil. Mungkin hari ini dia tak ke sekolah. Perasaanku pun menjadi tidak enak. Tak lama kemudian Ibu Ina guru wali kelas kami masuk kelas. “Ketua kelas, tolong sampaikan kepada guru-guru yang masuk, kalau Razil Anugerah sudah pindah, ya.” “Baik, bu.” Kata Firman ketua kelas kami. Seketika aku lemas mendengar perkataan Ibu Ina kalau Razil udah pindah. Aku kesal, sedih, bingung bercampur aduk dalam pikiranku. Aku kesal dan sedih, karena aku nggak bias bersama-sama Razil lagi, nggak bisa bercanda dan tertawa bersama dia lagi. Aku bingung karena susah banget cari sahabat yang sebaik Razil.

Sampai di rumah aku menangis sejadi-jadinya. Mengingat kenangan persahabatan aku dan Razil. Aku berusaha menelpon Razil. Berkali-kali aku nelpon, berkali-kali juga hpnya tidak aktif. Aku menjadi sedih. Tiba-tiba Ummi masuk ke kamarku sambil membawa sebuah surat. “Dian, ini tadi Razil nitip surat ini pada Ummi, katanya buat kamu.” Aku pun segera menghapus air mataku dan mengambil surat dari tangan Ummi. Segera kubaca surat itu

Dear: Dian
Dian, maafin aku, ya!!! Aku nggak beritahu kamu soal kepindahanku. Bukannya aku sengaja, tapi aku nggak mau lihat kamu sedih, Dian. Sehari sebelum kepindahanku, aku check up ke dokter. Ternyata kankerku kambuh. Aku nggak tahu harus gimana lagi. Akhirnya, keluargaku memutuskan aku pindah ke Australia agar aku bisa berobat disana. Jangan kamu sedih, ya Dian. Aku janji kalau aku sembuh nanti aku akan kembali lagi ke Ambon. Oke? Tetap smile, ya. Aku akan selalu mengingatmu.
Salam Manis, Sahabatmu
Razil

Aku kaget membaca surat itu. Aku nggak menyangka ternyata sahabatku yang paling kusayangi mengidap penyakit kanker.
Berbulan-bulan lamanya aku menunggu kedatangan Razil. Hingga pengumuman kelulusan telah usai dan liburan pun tiba. Aku memutuskan untuk berlibur di Australia agar dapat menemui Razil. Setelah kubicarakan dngan orangtuaku, akhirnya orangtuaku setuju kami berlibur di Australia.

Esok harinya, setelah membeli ticket dan mempersiapkan semua barang-barang, aku dan orangtuaku segera menuju bandara dan naik pesawat menuju Australia. Selama di perjalanan aku tak sabar ingin segera berjumpa dengan sahabatku. Sekitar 7 jam perjalanan, akhirnya kami sampai di bandara Australia. Kami pun segera turun dari pesawat. Karena hari sudah malam, kami pun segera beristirahat di hotel dan memutuskan untuk mampir ke rumah Razil keesokan harinya.

Esok hari sesudah sarapan pagi, aku dan orangtuaku menuju rumah Razil. Dengan Bahasa Inggris sekedarnya layaknya turis, akhirnya kami menemukan rumah Razil. Kami pun memberi salam dan Ibu & ayah Razil menyambut kami dengan ramah dan mempersilahkan kami masuk. Tapi aku tak melihat Razil dari tadi. Aku pun bertanya kepada Ibu Razil. “Bu, Razil kemana, ya? Kok nggak kelihatan dari tadi?” tanyaku. Seketika kulihat wajah Ibu Razil sedih. “Razil… Razil sudah tiada, Dian. Setelah ia menjalani beberapa kali operasi akibat kanker yang dideritanya, nyawanya tidak tertolong lagi.” Kata Ibu Razil dengan wajah sedih. Aku pun menangis karena sahabat yang kunanti-nantikan telah tiada di dunia ini. “Tapi Dian, Razil nitip kalung dan surat ini buat kamu. Tadinya, kami berencana mau kembali ke Ambon. Eh, tiba-tiba kamu udah datang.” Lanjut Ibu Razil sambil mengambil kalung dan surat dari sebuah lemari kecil di ruang tamu dan memberikannya padaku. Aku pun menerima kalung dan surat itu dari Ibu Azil. Kemudian, kubaca surat itu:

Dear: Dian
Dian maafin semua kesalahanku yang kuperbuat padamu, ya. Aku bisa pastikan kalau surat ini kau terima aku udah nggak ada lagi di dunia ini lagi. Tapi, jaga baik-baik ya, kalung yang aku kasih ke kamu. Karena kalung itu yang akan mengingatkanmu kepada persahabatan kita. Jangan sedih, ya. Aku nggak mau kamu sedih karena kepergianku. Aku sayang kamu selamanya. Kau adalah sahabatku yang terbaik. Jangan sedih, ya. Tetap smile, oke?
Salam Manis, Sahabatmu
Razil

Tangisku makin kuat tatkala kubaca surat itu. “Bu Razil, tolong anterin aku ke makam Razil, ya.” Kataku pada Ibu Razil. “Boleh, mari saya antarkan.” Aku, orangtuaku, dan juga orangtua Razil menuju makam Razil. Sesampainya disana segera kupeluk batu nisan sahabatku itu. Di dalam sini, dibawah sini, sahabatku yang paling kusayangi tertidur pulas untuk selama-lamanya. Aku akan selalu mengingatmu, Zil. Kaulah sahabatku selamanya dan takkan tergantikan.

Setelah itu aku, orangtuaku, juga orangtua Razil menaburi bunga di makamnya dan berdo’a kepada Allah SWT agar Allah SWT meluaskan kuburnya dan menerima semua amal kebaikannya. Setelah semua selesai kami pun meninggalkan makam Razil.
Selamat tinggal sahabatku. Semoga kau tenang disana dan amal kebaikanmu diterima oleh Allah SWT. Aku akan tetap berdo’a untukmu, Zil. Forever.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar